Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

10/8/12

Pengaderan out-of-the-box

Setiap pulang ke Jakarta, mesti saya nemenin si dia ke kampusnya seenggaknya sekali. Sebuah kampus yang patut jadi model pembelajaran etika sejak mahasiswa baru atau maba. Bis-bis kuning yang disediakan untuk shuttle di lingkungan kampus berisi anak-anak sopan yang selalu berterima kasih kepada supirnya setiap kali mau turun.
Cuman itu? Gak... Hanya ada 2 tujuan setiap selesai sesi kelas bagi mereka, ruang baca atau laboratorium. Ngapain? yang jelas bukan untuk meniru pekerjaan tugas kuliah temannya. Kalau memang tidak bisa, mereka akan menggunakan mata berikut telinganya, maksudnya mereka ingin mendengar terlebih dahulu penjelasannya bukan sekedar melihat lalu mengerjakan ulang.
Pertanyaannya, Siapa yang mengajari? Seniornya. Bagaimana caranya? tidak pernah diketahui tapi dilakukan. Sebenarnya sederhana, seniornya menjadi tauladan atau contoh tanpa memberi tahu juniornya. Tidak ada kegiatan rutin hingga satu semester apalagi satu tahun untuk rutin mengumpulkan mahasiswa baru, mereka menggunakan waktu lain tersebut untuk hal-hal yang lebih produktif. Pada individualis dong? Anehnya gak tuh, masih saja banyak yang bersedia memberikan tumpangan walaupun sebelumnya belum pernah mengobrol.
Kenapa di sebuah kampus lain menyapa senior saja jadi aturan, dan masih banyak yang gak nurut? Aturannya sudah bagus, metodenya yang dibuat terlalu sederhana. Kenapa tidak senior duluan yang menyapa? Saya yakin mereka akan membiasakan diri untuk menyapa seniornya dan siapa saja di kampus tanpa perlu dievaluasi, karena mereka merasa itulah budayanya. Maba atau siapapun pasti malu untuk pergi hedon di jam kuliah, jika seniornya, apalagi yang aktivis, pergi ke ruang baca atau lab. Siapapun tidak berani mencontoh pekerjaan temannya, bahkan berusaha untuk kreatif, jika tidak ada kasus plagiarisme diantara tugas-tugas seniornya.
Tanpa menyalahkan sistem yang kini sudah berlaku apapun itu, tapi kuncinya adalah tauladan. Pengaderan secara istilah berarti proses mencetak kader. Apapun yang terkandung dalam pengaderan akan terkandung pada kader itu nantinya. Oh ya, kenapa jarang yang datang tiap rapat pengaderan padahal semuanya diharepin dateng? mungkin sistem atau konsep yang sudah ada itu sudah tidak fit lagi dengan trend dan kebutuhan atau ekpektasi mereka yang tidak datang. Mungkin...
Seniornya menghampiri supir bis sebelum turun dan mengucapkan terima kasih, juniornya mengikuti. Seniornya pasti ada di ruang baca atau lab setiap usai kelas, juniornya mengikuti. Sebenarnya itu sederhana.

8/18/12

No Offense untuk Putaran Kedua

diambil dari cover fb-nya Pak Ahok, pinjem ya pak hehe...

Ternyata softskill itu bukan sekedar caramu berpakaian atau berbicara di depan umum. Lebih dari itu semua, softskill mencakup cara berfikir seseorang sehingga dapat membuat pertunjukkan diri yang align dari kulit sampai bijinya. Kulit bibir yang berjanji sudah tidak aneh tidak semulus bentuk bijinya, sudah lama nge-trend di kalangan usahawan, usaha jadi pejabat dan usaha jualan barang dan jasa.
Pada suatu acara berita interaktif dimana seorang penelepon yang mengaku pengamen jalanan menyatakan mendukung 'si ahli tata kota' karena sudah kuliah di Jerman. Sedangkan rivalnya hanya lulusan dalam negeri untuk mengelola hutan. Tapi nyatanya? Ahli hutan yang notabene hutan penuh binatang bisa berlaku manusiawi pada PKL, bagaimana dengan si ahli tata kota? Menggerus PKL layaknya menebang hutan. Iklan si ahli tata kota juga lucu, dimana seorang ibu berterima kasih atas kepemimpinannya dia dapat berobat gratis namun latar shooting-nya masih kawasan kumuh.

Indonesia butuh Pemimpin bertipe Wirausaha

Ya gak? Waktu pertama Indonesia merdeka, benar kita butuh pemimpin yang bisa membangun diplomasi dan bangunan megah serta menggarangkan militer, dan terbukti itulah Ir. Soekarno dan Soeharto. Hari ini, sayangnya kita tidak lagi menjual citra bangsa dengan militer yang kuat, diplomasi yang bersemangat, atau bangunan yang megah. Melainkan jualan barang, jasa, atau teknologi. Masyarakat kita sadar untuk hidup mandiri, dengan kata lain masyarakat sadar Indonesia harus memiliki banyak wirausaha. Kenapa? Pertama, untuk menjadi negara maju jumlah wirausaha harus mencapau 2,5 persen. Kedua, rakyat bosan dengan harga ini-itu yang naik melulu dan harus impor, dengan banyaknya wirausaha mengartikan berbagai komoditas bisa didapat lebih murah dari dalam negeri. Ketiga, mental wirausaha menjaga hubungan baik dengan pelanggannya dengan keramahan dan respon cepat.
Jokowi, oke deh sekarang disebut mereknya, waktu jadi walikota Solo tetap makan dari jualan. Bayangkan kalau PNS di kelurahan, kecamatan, dan dinas-dinas yang melayani publik bisa bertingkah seperti teller dan customer service di bank. Selain ramah, juga selalu berusaha problem solving saat itu juga.

Solutif!

Impressed banget waktu nonton video-video di channel youtube ahokbtp. Terutama saat denger solusinya ahok di Komisi II DPR soal Pemilihan Umum. "Jakarta Baru The Movie" lebih impressive saat nunjukin konsep super blok itu. Itu baru namanya pempimpin yang solutif. Ntar nonton aja ya sendiri :P

Jalan Kaki

Terakhir, satu ungkapan untuk yang telah menjadi 'ahlinya' Jakarta 5 tahun kemarin. Entah tujuannya memotivasi seorang anak untuk lebih fight atau memang tidak mau memperhatikan. Kau kemanakan trotoar di Jakarta? Kenapa kau lebih paksa kami naik mobil dan motor? Apa jalan layang non-tol itu bisa kami lewati tanpa asap hanya dengan sepatu atau sendal?

1/14/12

Alhamdulillah...

Cukup merasa exciting, akhirnya tulisan yang aku kirim buat ITS Online di-publish. Itu adalah cerita tentang perjalanan, gak keluar kota, pas survei DMJ ke Telkom naik taksi. Sebuah kisah yang memotivasi datang dari seorang Sopir Taksi.
Terima Kasih banyak buat temen-temen Redaksi ITS Online, terutama buat Lutfi 'sading' Hilman atas petunjuknya dan redaktur yang ngeditin tulisanku. Semoga besok-besok diizinin nyumbang tulisan lagi :D

12/20/11

Pengkaderan yang Tertukar


*S: senior
*J: junior
S: “Dek, udah kenal berapa temen-temennya?”
J: *diam*
S: “Terus ngapain ada 5 bulan?”
S: *backsound* “sibuk belajar mas! “gak penting mas!”
Kurang lebih begitulah riuhnya suatu malam dimana mereka seharusnya memupuk mimpi setinggi bintang di langit. Namun, bukan alasan senior melakukan semua itu, *katanya* untuk kader ‘kami’ yang lebih baik. Alhasil, mereka saling kenal dan begitu kompak, sampai… beberapa dari mereka lebih memilih jabatan yang penghasilannya adalah pengalaman. Senior pun jadi dikenal, setidaknya yang setia menggantikan saat mereka seharusnya bermimpi.
Eh, sayang beribu sayang, kini telah aku lewati tahun pertama, kini aku w-a-r-g-a. Sebuah predikat yang ditandai dengan izin memakai jaket di kota terpanas di Indonesia. Semester 3, disinilah mataku benar-benar terbuka.
Cukup bangga karena teman-teman seperjuanganku dulu kini jadi elemen pengkaderan. Orang-orang yang akan ‘membesarkan’ mahasiswa baru (maba) kurang lebih selama setahun untuk nantinya menjadi warga yang baik. Bisa dibilang kayak orang tua atau guru, tapi karena usia mungkin lebih cocok sebagai “kakak”.
Namun, bukan suatu hal yang istimewa jika kita sekelas kuliah dengan mereka. Sama saja, mereka juga mahasiswa. Sama tugas kuliah saja masih banyak ngeluhnya, dan jelas bukan lulusan S-1 apalagi Doktor atau Profesor. Soal pemikiran pengembangan SDM, beberapa dari mereka sering menyalahkan yang sudah lulus S-2.
“Pengkaderan”, inilah kegelisahan sejak lama yang sebenarnya ingin aku tuliskan. Entah kenapa aku merasa berbeda dengan kalian karena hal ini, hati nuraniku tak pernah sepenuhnya setuju.
Elemen pengkaderan biasanya cukup ‘gatel’ buat ikut acara-acara pengembangan SDM, seperti Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) dengan berbagai tingkatannya. Walaupun hanya ikut Pra-Tingkat Dasar, setahuku disitu diajari mengenai 4 fungsi mahasiswa, silahkan googling sendiri apa saja, tapi jujur isinya bagus!.
Sampai akhirnya pada suatu hari, kuis salah satu matakuliah meyakinkanku untuk menulis titisan emosi ini. Waktu itu datang telat untuk kuis, sehingga aku kebagian duduk di bagian paling belakang. Tiga puluh menit menuju waktu habis, kepalaku mulai bisa melihat ke selain kertas soal dan jawaban. Tepat di depan mataku, teman-temanku asik lihat-lihatan jawaban. Satu hal yang mengganjal bagiku saat itu, “Eh, bukannya dia itu elemen pengkaderan ya?”. Sebenarnya masih banyak lagi kejadian-kejadian yang membuat aku bertanya, inikah pengkaderan??
Jika pengkaderan itu beralaskan kekeluargaan, siapkah kita punya pengaruh keluarga yang tidak jujur. Seremeh itukah perkara kejujuran? Bagaimana nanti para sarjana yang lulusan pengkaderan akan berkarir? Tak akan selesaikah masa keberadaan KPK?
Hidup ini adalah pilihan. Study oriented itu pilihan. Organization Oriented itu pilihan. Social oriented itu pilihan. Kejujuran? Tegakah kita jadian Ia pilihan? Itu pilihan Anda memilih jawaban Ya atau Tidak.
Elemen pengkaderan memang bukan Nabi. Gak ada manusia yang sempurna, termasuk aku yang menumpahkan kata-demi-kata disini. Aku bukan elemen pengkaderan, yang rapat hingga larut malam.
“Kalian akan dihargai, jika kalian menghargai hidup, termasuk kejujuran.”
“Kejujuran itu mata uang dunia, tinggi nilai tukarnya. Barang mahal cuman ada dua, kalo gak langka ya susah ngedapetinnya.”
“Teman yang sesungguhnya adalah orang disekitarmu yang berani menyampaikan kesalahanmu…”

10/11/11

Merah Putih, idealisme vs realita

Buku kewarganegaraan kita sejak sekolah dasar menuliskan merah artinya berani dan putih artinya suci. Banyak makna antara hubungan keberanian dan kesucian itu. Namun, setidaknya kita bisa sepakat mendahulukan berani lalu kesucian. Mungkin dulu sempat ada yang menginginkan mendahulukan kesucian, tapi nanti malah jadi mirip Polandia.
Lihat sekarang, apa yang telah terjadi bagi Merah Putih. Orang Indonesia begitu membakar semangatnya, tapi tak mengerti apa yang mereka bela. Apakah itu kepentingan pribadi sendiri maupun orang lain, kepentingan golongan, dan yang jelas bukan kepentingan Persatuan Indonesia.
Itulah mengapa masih saja banyak perpecahan di Indonesia. Mereka yang berseteru pakai senjata dengan 'semangat'nya, menumpahkan banyak darah yang "merah", lalu tetap saling merasa (sok) 'suci' tak mau disalahkan.
Jika pemuda kita seperti itu saat ini, setidaknya bisalah orang tua kita jadi tauladan. Tapi sayang, mereka pun menyia-nyiakan banyak darah rakyat jelata dengan makan jatah yang bukan miliknya. Namun tetap tersenyum lebar bak orang pulang haji seakan begitu suci. Uang rakyat cuman habis buat rapat, sidang, panggil menteri, lalu konferensi pers masalah sms ._.

10/8/11

Orang Besar yang Sombong

Orang yang meremehkan orang lain, atau menganggap dirinya lebih "besar" dari pada orang lain, hanya ada dua kemungkinan bagi orang semacam ini, yaitu:
1. Orang tersebut lupa, Ia tidak ingat pernah jadi kecil.
2. Orang tersebut sebenarnya belum "besar", karena sesungguhnya orang yang besar itu karena Ia mengumpulkan bagian- bagian kecil hidupnya hingga jadi besar. Artinya, orang yang merasa besar tersebut akan merasakan yang namanya jadi kecil.

posted from Bloggeroid

6/11/11

Masalah Persatuan

Pernahkah kita merasa organisasi kita sulit menemukan tujuan yang sama? Pernahkah kita merasa dalam organisasi kita hanya sebagai orang terdaftar?
Satu kata, yaitu eksklusifisme. Rasa keistimewaan bagi beberapa orang yang sebenarnya hanya membawa/terbawa satu orang ambisius saja.
Orang-orang tersebut beranggapan pendapat mereka paling benar. Mereka biasanya memutuskan kepentingan keseluruhan organisasi tanpa menghiraukan banyak elemen organisasi lainnya.
Mengapa hal tersebut menjadi masalah? Karena mereka tentu akan membuat elemen organisasi di luar mereka merasa tidak dihargai, sehingga orang-orang di luar mereka tersebut cenderung diam dan ingin menjauh. Jelas saja, mereka hanya akan merasa dimanfaatkan orang-orang eksklusif tersebut.
Selanjutnya orang-orang eksklusif tersebut akan merasa hanya mereka yang berjasa selama ini. Orang-orang eksklusif tersebut tidak akan sadar bahwa mereka menganut eksklusifisme.
Solusinya?? Jangan pernah meremehkan siapapun, apapun latar belakangnya. Jangan takut jadi sendiri karena dekat dengan siapapun, jangan sering-sering kumpul dengan orang-orang itu aja.

posted from Bloggeroid

3/20/11

Lulus disitu, cari kerja juga disitu

Tiga tahun lagi, saya sudah begitu senang dengan selesai tugas akhir dan akhirnya diwisuda. Tapi sadarkah kita? Ada yang selalu dibayar selanjutnya untuk sebuah kepuasan. "Karir", sebuah kata yang pasti muncul setelah kata "Lulus".
Karirnya kemana? Untuk itu penting bagi kita mengetahui tempat-tempat yang kita tuju dan bagaimana cara mencapainya. Agar kita lebih siap, 3 tahun sejak sekarang waktu yang lumayan panjang untuk bersiap-siap.
Banyak kualifikasi yang menerima lulusan sistem informasi. Sayang sekali, saya harus katakan mereka itu "menerima", bukan "membutuhkan". Kualifikasinya rata-rata sama yaitu:

  • IPK minimal 3,00
  • TOEFL Score minimal 450
  • Lulusan perguruan tinggi berakreditasi A

Bagi saya, ini sebenarnya kualifikasi yang akan memberikan Anda predikat "hebat". Kualifikasi ini terdapat di Pertamina, BNI46, Bank Mandiri, dan beberapa perusahaan lain yang bukan berbasis teknologi informasi.  Posisi yang ditawarkan hanyalah sebagai management trainee, artinya kita akan masuk perusahaan tersebut sebagai orang belajar. Lebih mendalam lagi, predikat "hebat" tersebut ternyata belum dapat dipercaya untuk memegang sebuah peran dalam kegiatan usaha mereka.
Memang ada juga perusahaan yang mau menerima kualifikasi sistem informasi sebagai sebuah peran langsung. Terdapat di perusahaan Astra, dengan posisi sebagai analis IT. Peranannya nanti adalah untuk mendesain aplikasi komputer untuk menjawab kebutuhan pengguna, selain itu juga menganalisa permintaan dan pasokan persediaan dengan koordinasi terhadap pemasok. Melihat peranannya, kita cukup beruntung berada di jurusan sistem informasi sekarang karena kita mendapatkan materi sesuai dengan kebutuhan mereka.
Jujur, kuliah ini saja bagi saya sudah cukup melelahkan, tapi ternyata nanti kita harus berlelah-lelah lagi mengejar karir. Saya berharap, jangan sampai saya bangga lulus di Grha ITS, tapi cari kerja juga disitu. It is a scary things to know, but a very motivating experience to got it now :D
Hanya ada 2 pilihan yang enak untuk memasuki dunia karir, "dicari orang buat kerja karena keahlian kita" atau "buat lapangan kerja itu sendiri alias jadi entrepreuner".Lebih ekstrim lagi cari kerja yang kita bisa, tapi bukan karena latar belakang kuliah alias buat hobi jadi uang. Persaingan itu terjadi karena ada persamaan, make any differentiation!

2/17/11

Indonesia, negara yang santai

Pemerintah dan tokoh-tokoh nasional terkesan sangat subyektif dalam menyalahkan kebobrokan moral pemuda di negeri ini. Mereka menganggap menghindar dari kemaksiatan itu mudah. Sangat kurang kesadaran akan perbedaan era dan pengaruh yang masuk antara pemuda dan orang tua.
Pengaruh media
Tak seperti dulu, media sebagai pengaruh utama saat ini, sudah mengacu pada kepentingan politik dan bisnis semata. Bisa kita lihat di media massa saat ini, cetak maupun elektronik, pendidikan apa yang telah diajarkan? Doktrin secara tidak langsung untuk mengabaikan inner beauty.
Hiburan-hiburan yang ditampilkan hanya membuat pemuda dan anak sekedar mampu bermimpi, bukan berpikir. Berkhayal akan asiknya hubungan antar lawan jenis, begitu menghalalkan ciuman dan pelukan. Namun, mereka buta akan makna dan hikmah dari kehidupan nyata. Mengurung mereka dalam kehidupan anak kecil, maturity just a theory for them.
Sudah jarang kita lihat acara cerdas cermat atau kisah sejarah, kalau adapun akan diabaikan karena lebih didominasi sinetron yang menampilkan wanita cantik dan lelaki tampan. Beberapa media pula hanya merekayasa sebuah isu agar membingungkan rakyat, menegatifkan pikiran kita terhadap orang, dan mengajarkan argumentasi untuk debat kusir.
Efek pembangunan di Persaingan Bebas
Kurikulum pendidikan kita kini berasalan student centered learning, maksudnya agar pelajar kita lebih mandiri.  Tapi malah yang ada masuk guru-guru tak berkualitas yang santai. Peribahasa yang satu ini memang kasar, "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Guru hanya sebuah profesi, bukan lagi gelar kehormatan.
Sebenarnya kita belum siap masuk persaingan bebas. Pembentukan pola pikir kita masih belum sempurna. Namun, kini uang yang berbicara.
Lapangan sepak bola yang sebenarnya tempat cukup positif, malah dijadikan taman kota. Manfaatnya memang penghijauan, tapi ada saja pasangan muda-mudi yang menjadikannya sebagai pelarian jam sekolah. Seakan-akan itu wajar saja kita memandangnya.

Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Tak salah pemerintah kini mau memblokir pornografi. Namun, kalau gak ngebokep mereka mau ngapain, masa langsung  'mempraktekkannya'?? Jika mereka sibuk akan suatu hal yang lain, mungkin sekedar update status di jejaring sosial mereka takkan sempat.
Realita di media dan hasil pembangunan, negara ini memang memfasilitasi kita untuk santai. Santai memang perlu, tapi ada sibuknya dulu dan berhasil kalau perlu. Enjoy Indonesia !

1/18/11

Resiko jadi orang Baik

Predikat "baik" memiliki arti masing-masing bagi berbagai orang. Tinggal pastikan saja bahwa pemberian predikat baik yang sebenarnya adalah yang ditinjau secara universal dan tidak berdasarkan alasan politis. Sebagai persepsi awal, kita semua menyadari nobody perfect in this world! yeah, it’s true!…

Resiko yang pertama adalah saat kita berdakwah atau menyampaikan seruan kebaikan. Kita cepat atau lambat akan segera diuji dengan apa yang kita serukan itu sendiri. Misalkan kita baru saja berbagi dengan seseorang mengenai kesabaran, tanpa kita sadari tiba-tiba berikutnya kita diuji untuk tetap sabar dalam suatu kondisi yang membakar amarah.

Berikutnya adalah tantangan kepercayaan yang dibebankan lingkungan kepada Anda. Sebagai orang baik, masyarakat tak akan lagi ragu untuk meberikan Anda sebuah peran. Tantangannya adalah saat peran tersebut terus bertambah dan berbalik menjadi beban karena peran apapun ada masalahnya. Saat dimana kita harus bertahan untuk sabar dan ikhlas. Situasinya nanti adalah sebuah status quo yang ancamannya merupakan bunuh diri karakter.

Kepercayaan manapun menyerukan umatnya untuk berbuat baik. Karena berbuat baik walaupun ternyata beresiko, ada manfaatnya termasuk di resikonya tersebut. Sebagai dampak kita harus menjadi khalifah di muka bumi, Tuhan sungguh merancang ketidaksia-siaan konsep kehidupan itu agar kita lebih mudah dalam mengabdi kepada-Nya. Sebagai orang baik, saat kita membutuhkan bantuan pasti tak perlu lama ditunggu. Amin..

Pemimpin ialah pengaruh sebagai petunjuk, maka jadilah pemimpin yang baik. Resiko adalah faktor pengali dalam mencapai kesuksesan, semakin besar resiko pada usaha yang biasa-biasa saja mengalahkan usaha besar pada resiko kecil.

1/17/11

Dasar Munafik !

Judul ini ditujukan bagi hampir seluruh umat manusia dunia yang merasa tak nyaman dengan hidupnya sendiri. Orang-orang yang mengeluh, yang merasa tidak dibutuhkan dan hampa. Mari kita telaah mengapa sampai kita sebagai manusia dapat merasakan segitunya.

Kita semua adalah free-man (preman, red), menjunjung kebebasan. Merasa terinjak-injak saat diatur, tapi tak ada bersama kita jika kita tidak mau diatur. Untuk mendapatkan tempat yang layak bagi kita sebagai pencari kebebasan, bertindak dan bersosialisasilah tanpa membatasi kebebasan orang lain. Salah satu cara kita untuk diterima dan menghilangkan kegelisahan pribadi.

Ungkapan terima kasih adalah sebuah janji kita terhadap diri sendiri, bukan sekedar ungkapan apresiasi. Jika dipisah menjadi 2 kata dari frase tersebut, disusun dari kata terima dan kasih, dua kata yang antonim. Maknanya adalah saat kita menerima, lalu mengucapkan terima kasih, kita berjanji akan kembali memberi (kasih) di masa depan walaupun bukan bagi yang memberikan kita sesuatu itu.

Apa yang telah kita pikirkan tentang pemerintah? Hidup di negara yang kita akui serba semrawut ini, membuat kita tak bisa begitu menghargai mereka di gedung-gedung megah sana. Kita menganggap bahwa hidup kita saat ini karena usaha kita sendiri dan tak menganggap adanya peran positif pemerintah. Walau hanya segelintir peran dari mereka yang tak begitu memuaskan, tetap saja kita masih enggan untuk menganggapnya ada. Maknanya adalah, selama ini kita suka berada pada posisi sudah berperan tapi tak ada apresiasi yang kita terima. Bukankah begitu juga kita telah perlakukan pemerintah kita.

 

Intinya di dunia ini berlaku yang namanya hukum karma. Namun, bukan hukum karma yang tidak berkesinambungan, itu tergantung kepercayaan kita masing-masing. Saat kita tidak menghargai orang lain, maka kita harus siap untuk tidak dihargai orang lain. Saat kita mengkritik pihak lain, maka bersiaplah ada pihak lain lagi yang akan segera mengkritik kita.Saat kita melalaikan tanggung jawab terhadap orang lain bahkan diri sendiri, saat itu pula kita sebenarnya minta untuk tak lagi diperhatikan.

Semoga hari demi hari kita senantiasa kian mencerah :)

1/16/11

Yang kita diajari saat kecil, kita harus tinggalkan saat dewasa

Politik yang punya pasar SDM, mau orang yang begini begitu dan bisa ini itu. Mata rantainya memang panjang, tapi yang bisa dibilang awal adalah ambisi kekuasaan. Menyuruh dengan cara mempengaruhi, mendoktrin pemikiran si pemilik ambisi.
Banyak orang hari ini benar-benar pasrah, menerima status quo. Ya, politik adalah status quo-nya setiap orang. Jika politik yang punya pasar SDM, bagaimana sebenarnya kondisi politik itu sendiri?
Waktu kecil, orang tua kita mengajarkan untuk ikhlas dan tulus dalam memberi dan berbuat positif bagi orang lain. Ayah kita mengajak ke masjid untuk sholat, memangku kita selama khotbah, saat kotak amal lewat ia meminta kita yang memasukkan uang ke dalamnya. Saat ada teman kita main ke rumah, tak ragu ibu kita untuk bilang "ayo, temennya diajak makan...". Itu hanya baru segelintir. Namun, kini saat kita sudah beranjak dewasa justru kita berpikir ketika akan berbuat bagi orang lain. Apa untungnya bagi saya? Siapa saja yang melihat? Orang lain pasti menganggap saya baik, makin gampang deh ntar buat jadi ketua HIMA!
Jujur adalah mata uang dunia. Namun, tetap rupiah yang bisa buat beli rumah mewah, mobil built-up, saham disana-sini, sky dining tiap malam minggu. Tembok-tembok uang telah membuat siapapun tak peduli dengan kejujurannya sendiri, keluarga dan saudaranya, anak didiknya, rekan kerjanya.
Saat dipertemukan dengan teman/rekan ayah atau ibu kita, di Indonesia kita akan menyalaminya dengan cium tangan. Artinya bahwa kita memang menghormati yang lebih tua. Namun eh namun lagi, "kini kan kita sudah dewasa, Indonesia negara demokrasi, suka-suka dong mau ngomong apa...". Kita tak pernah mau mengerti bagaimana berposisi menjadi matang setelah dewasa. Siapapun akan jadi pemimpin. Kita nanti dikritik bahkan dijatuhkan oleh orang-orang yang baru diranah kita, dan saat itu kita hanya bisa pasrah karena mau menafkahkan keluarga.
Mengaku saja, "jika tidak hedonis, apa yang terjadi pada kita? Tanpa uang, patutkah seseorang itu kita hormati?" itukah yang ada di pikiran kita?.
Sebagai kesimpulan terekspresi dalam beberapa frase berikut: "Ketulusan nantinya berlaku syarat dan ketentuan", "Uang sudah jadi komoditas pemikiran", "Ngapain tersesat di jalan kebenaran?", "Dulu cium tangannya, sekarang cium dulu uangnya baru tangannya".  

What should you do? Balik jadi anak kecil aja yuk! :D

1/9/11

'Membersihkan' orang-orang (yang mungkin) bersih

Pandangan terhadap negara ini begitu suram alias negatif. Seumpama dalam menempati sebuah negara menggunakan hukum pasar, siapa yang mau beli tempat tinggal bernama Indonesia. Pengelolanya saja kacau begitu, aturannya semrawut dan fifty-fifty untuk dipatuhi.
Namun itu dulu, sekarang?? Sudah banyak perkembangan yang megikis kotoran di hati masyarakat. Membuat mereka lega karena kekecewaan itu kian ditekan pemerintah dengan kinerjanya. Tapi tunggu dulu, itu juga kisah kemarin.
Semenjak 'borok-borok' itu dikikis, bau nanahnya mencolok ke hidung masyarakat. Sebut saja dalam posting kali ini terdapat seorang Gayus Tambunan. Tanpa bisa menyalahkan Ia seorang, memang ada seorang dalang yang sedang memainkannya di belakang layar.
KPK sebagai 'makhluk suci' di negara ini pun kini linglung dengan harus memperkarakan dirinya sendiri. Namanya mau berbuat baik, ada saja pasti yang tidak suka, yaitu jelas orang jahat terlebih yang KPK harus basmi. Kini Gayus pun dihadirkan untuk menyeret kesucian itu ke lumpur bersamanya, atau benar-benar menumbangkan keperkasaan hanya jadi kayu lapuk.
'Borok' yang begitu besar di tubuh POLRI memang tak mungkin lagi disembunyikan. Hari ini, siapa yang tidak akan berpikir negatif begitu mendengar profesi polisi. Namun, tetap saja ada warna dalam sebuah organisasi, yakinlah ada bintik-bintik putih yang terdominasi. Lagi-lagi GT itu dihadirkan untuk menyempurnakan lukisan POLRI menjadi semakin hitam dengan memborong beberapa nama menuju meja yang ada ketok palunya.
Dari akal-akalan dalang berupa sebuah paspor, kini Patrialis Akbar jadi calon mantan Menkumham. Tak mungkin beliau harus memperhatikan tiap-tiap pemohon paspor. Entah sebesar apa kasus GT ini? Peranan media jadi parameter penegakan hukum, jujur saja agak mengurangi kesyahwatan keadilan di negara ini. Jika kasus ini tak digembar-gemborkan media, akankah penyalahan pihak soal paspor itu sampai ke tingkat menteri?
Bukan maksud membela siapapun atau menyalahkan suatu pihak atau kalangan tertentu. Hanya ingin membuka mata hati setiap yang terbawa euforia dan bara api emosi.

1/1/11

.ID

Selama ini kita sebagai orang Indonesia pasti tidak asing lagi dengan situs-situs yang alamatnya berujung ".id", apalagi bagi orang-orang yang sudah bisa membaca artikel ini alias yang sudah kenal internet. ".id" tersebut adalah TLD untuk Indonesia. TLD adalah singkatan dari Top Level Internet Domain, atau dalam bahasa Indonesia yang baku disebut dengan "ranah internet tingkat teratas". Tetapi saya disini bukan mau membahas panjang lebar apa TLD itu. Yang jelas kita sudah bisa menebak bahwa setiap situs yg berujung ".id" itu pasti berbahasa Indonesia.

Dalam tulisan ini saya mengajak untuk memaknai sangat dalam TLD ".id" yang sudah kita dapat tersebut.
.id bukan hanya berarti IDentitas situs web Indonesia, namun sebagai IDentitas yang harus kita jaga nama baiknya.
.id mengacu pada sifat kita yang seharusnya benar-benar InDependen, kuat dari tekanan dan mementingkan aspirasi rakyatnya di ranah internasional.
.id bisa berarti IDola, yang dikagumi bangsa-bangsa lain karena prestasi positif. Bukan terkenal karena sebagai salah satu negara terkorup ataupun cap sebagai tempatnya teroris.

Lalu khusus pesan saya bagi penyelenggara negara ini, saudara-saudari bekerja di institusi dengan alamat situs web berujung ".go.id", maka bawalah kemajuan kepada negeri ini. Go! Indonesia..