Showing posts with label Hikmah Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Kuliah. Show all posts

2/7/13

Bicara Cara Bicara

Libur-libur semester kemarin, ada whatsapp masuk dari Isti anak KIR 54, aku kira undangan untuk dateng KIRSPY (pelesiran cerdas a.k.a study tour), ternyata undangan buat sharing sebagai trainer di LDKS-nya SMA Negeri 54 Jakarta. Aku terima, Alhamdulillah walaupun namanya kerja tapi bikin liburan jadi gak garing. Awalnya aku kira bakal ngisi materi leadership, tapi pas ketemu Rafly, Kombid V MPK 54 2012/2013 sekaligus Ketua Pelaksananya, ternyata aku diminta sharing tentang Public Speaking. Sempat bolak-balik diundur sampe jadinya dipenghujung liburku.
Berangkat dari Jakarta bareng rombongan yang pakai tronton, sedangkan aku ditemani Zahra, Fathur, dan Vega bawa mobil sendiri biar bisa pulang duluan abis ngisi materi. Alhamdulillah sampai villa di Ciloto - Puncak, Jawa Barat dengan perjalanan yang cukup lancar. Aku buka sesi sharing malam itu dengan Bendera dari Cokelat, mencoba membuka kembali aura relaksasi mereka di malam yang dingin setelah perjalanan dengan berdesak-desakan di mobil militer. Senam relaksasi a la Prof. Eko Indrajit - coach-ku waktu APICTA 2012 di Brunei - pun aku coba. Okay, nyok bahas materinya, pakai kemeja merah muda, and... the shows up!

Personalize Yourself & Speak Up!

Tidak perlu bawa literatur tentang Leadership, kita semua setuju bahwa pemimpin besar hanyalah mereka yang membangunnya dengan kemampuan komunikasi yang kuat. Komunikasi sendiri memiliki arti to share dan to put in common. Definisi komunikasi yang dirilis di wikipedia tersebut bermakna bahwa komunikasi adalah sebuah proses yang menguntungkan subjek dan objeknya. "To share" memiliki perspektif orientasi kepada orang lain untuk mendapatkan sesuatu, sedangkan "to put in common" memiliki perspektif terhadap pemikiran subjek agar laku di lingkungannya.

Anxiety vs. Benefits

Namun, seluhur-luhurnya makna dari komunikasi dalam hal ini Public Speaking, ternyata bukan hal yang mudah dilakukan bagi banyak orang. Sebuah survei nasional di AS membuktikan bahwa banyak orang yang lebih baik mati dari pada harus bicara di depan umum. Ternyata diantara peserta LDKS sudah sadar bahwa public speaking tidak sepaputnya ditakuti. Satu-persatu dari mereka menjawab manfaat public speaking untuk: meningkatkan percaya diri, membangun kepemimpinan/pengaruh, membuka peluang, menciptakan solusi, membangun jaringan sosial, menghasilkan uang, dsb. Kenapa? Mudah-mudahan terjawab di bagian penutup ya...
Namanya juga pemimpin, pasti jumlahnya lebih sedikit daripada pengikutnya. Tinggal pilih mau jadi yang mayoritas dengan kemampuan komunikasi yang biasa-biasa saja dan kadang menghindar, atau minoritas yaitu pemimpin yang berani ambil resiko untuk salah dan terus menambah jam terbang. Menurut survei oleh Nancy Duarte bahwa 86,1% jajaran eksekutif percaya bahwa kemampuan komunikasi yang kuat berdampak pada kesusesan mereka, secara langsung!

Learning from Soccer

Jika, diibaratkan sebagai pertandingan sepak bola, apa sih yang diharapkan oleh para supporter? Gol! bukan? Tujuan dari public speaking itu bisa kita ibaratkan sebagai permainan sepak bola, dimana supporter tadi adalah audience-nya.
Kita urai dulu elemen-elemen dari permainan sepak bola ini. Pertama, ada bola yang merupakan pesan dari pembicaraan. Lalu terdapat gawang yang merupakan pikiran (mind) dari audience, namun dijaga oleh seorang kiper yang merupakan rejection-nya seperti "siapa sih yang bicara ini?", "gak mudeng ngomong apa itu", "sudah mainstream materinya", dsb. Nah, kita sebagai pencetak gol atau kicker bertugas membobol gawang kiper, toh!

Be Over-Prepared!

Mungkin gak sebuah tim sepak bola akan mencetak gol bahkan kemenangan, tapi pemainnya gak terlalu ngerti sepak bola itu sendiri? atau bermain hanya dengan strategi yang biasa saja? atau jarang latihan? Gak mungkin kan... Sepeti itulah mempersiapkan sebuah public speaking.
  • Pengetahuan yang luas, hubungkan dengan banyak aspek yang lebih umum.
  • Gunakan kata-kata yang provokatif, yang membangkitkan semangat.
  • Latihan! Latihan!, kalau yang ini jelas sudah tidak bisa ditawar lagi.
  • Siapkan rencana-rencana pengganti.

Message-centric

Namanya permainan sepak bola yang selalu diperhatikan dan kejar bolanya kan? Nah, bola kan pesan dalam pembicaraan. So, gimana caranya mencetak gol itu sendiri? gini nih...
  • Buat struktur dari ide-ide yang ingin dibawakan.
  • Sampaikan lebih banyak fakta daripada opini pribadi, buktikan opini dengan fakta.

Who is your Audience?

Selama ini industri olahraga sepak bola hidup karena penggemar atau fans yang begitu antusias, begitu pula setiap tim berarti hidup dari fans mereka di tribun dan depan layar setiap bermain. So, your Fans is all about, please Concern about them. Caranya...
  • Jadilah teman bagi mereka, sebagai teman kita akan ketahui apa yang mereka harapkan.
  • Sapa, bangun semangat yang sama agar persepsi ikut sama.
  • Terbuka, biarkan orang tahu banyak tentang kita.

Last but not least...

Itulah mengapa judul sharing ini adalah "Personalize Yourself & Speak Up!", karena public speaker yang baik adalah mereka yang memiliki kepribadian yang baik. Memang tidak dibahas banyak tentang teknis berbicara yang disini, karena mental dan kemauan tidak bisa direkayasa. Kesuksesan dimana-mana juga hanya datang bagi mereka yang berani ambil resiko dan mau berusaha.

Menunggu fajar menyingsing, barulah kami kembali ke Jakarta meninggalkan teman-teman yang masih semangat untuk LDKS. Terima Kasih kepada MPK-OSIS-Ekstrakulikuler SMA Negeri 54 Jakarta serta Guru Pembina atas kesempatan yang telah kalian berikan. Maju terus generasi JKT54 :D
ye ye ye
la la la

8/10/12

Belajar dari Kantor

What an experience!... Pilihanku untuk pulang paling awal dari temen-temen di Surabaya awalnya menyisakan keraguan, keraguan atas tanggung jawab baru sebagai pembantu Febri dan Yoga untuk pegang pos Riset dan Teknologi di BEM FTIf ITS. It's a lost of opportunity cost, sederet program pemenangan ITS untuk GEMASTIK 5 di kampus rival harus ditangani BEM FTIf bagai belum menunjuk Manager RTD. Jika menunda pulang, rasa salah menyerang dengan tanya mengapa aku lebih mentingin organisasi daripada keluarga. Namun, dilema sebaliknya terasa saat aku sudah di Jakarta.
Hari-hari yang menyenangkan, menyebalkan, dan membosankan aku lewati di Jakarta dengan satu keyakinan, keluarga. Sampai hingga suatu hari saudaraku sejak SMA, Fino Nurcahyo, menawarkan sebuah kesempatan yang kecil namun tidak bisa didapatkan tanpa kesadaran dan pengorbanan, yaitu magang. Dia minta CV aku, ya aku kirim. Seminggu kemudian, kami harus bertemu orang yang akan menerima magang, Presiden Direkturnya sendiri. Padahal kukira hanya manager IT dari sebuah perusahaan.
Pandangan presdir ini jelas helicopter view, Ia ingin kami mempelajari IT secara menyeluruh. Sayangnya kami hanya dapat waktu sebulan sesuai lama liburan. Dimulai dari belajar jaringan, sedikit server termasuk AS/400, diakhiri dengan hub operations dan workshop hardware komunikasi.
_________________________________________________________________________________
Hari pertama, hari yang tidak akan pernah Fino dan aku lupakan. Paginya kami dikenalkan dengan pembimbing dan tim sampai diberikan meja kerja. Namun, yang terjadi hampir seharian kami hanya duduk-duduk saja, sampai aku tertidur dan dibangunkan seorang bapak-bapak ._. Oke, mau gak mau gini caranya kita perlu strategi, masa mau besok terulang hal yang sama. Siangnya, ngobrol sama pembimbing, sayangnya dia masih bingung mau ngasih kita kerjaan apa. Tapi, hari itu ada training produk baru, jadi kita disuruh ikut aja. Yah, selama di training gak ngerti apa-apa. Pertama, di kuliah gak ada ilmu hardware, dan kedua, yang ngisi training orang Jepang berbahasa Inggris ._. Pas break training, orang Jepang tersebut ngajak kita ngobrol karena tau kita interns. Pertanyaannya standar tapi ada yang agak susah dijawab, "Kenapa pilih belajar IT?", ya aku jawab emang ini passionku sejak SMA. Dia ngasih kartu nama dan bilang, "If you want to work in Japan, just send me email". Aku bingung itu dia serius apa cuman basa-basi.
_________________________________________________________________________________
Masuk hari berikutnya, pembimbing masih bingung mau nyuruh kita apa. Sampa seorang temannya bilang ada router rusak di gudang. Seakan melihat secerca harapan setidaknya aku bisa makan, ilmu tentunya. Pepatah memang benar, tantangan itu kembar siam-nya peluang. Kita lupa syntax-syntax yang pernah dipraktekin di DMJ, antara lupa atau pas praktikum memang gak pernah fokus, akui saja. Kembali membuat kami mengingat, alias belajar lagi, dari mulai subnetting sampai routing. Hanya dengan 3 router saja, 2 subnet, routing-nya seharian ._.
Dua minggu sudah bolak-balik mainan router, diajaklah kami ke customer, sebuah manufaktur mobil. Pemandangan disana cukup ramai dan sibuk, maklum perusahaan Jepang. Walapun kerjaan kami cuman cabut dan colok kabel disana, plus foto-foto juga, ternyata case wasn't closed on that day.
Rasanya belajar network sudah cukup, karena pembimbing bingung kita mau disuruh pelajarin apa lagi. Fino dan aku sepakat saatnya kita laporan ke pak presdir dan tanya harus kemana lagi. Jawabanya, hub operation. Sebuah unit kerja semacam helpdesk untuk jaringan antena bagi berbagai perusahaan yang gak mungkin ditarikin kabel ketempatnya, seperti tambang, kebun, termasuk ATM yang bertebaran. Jujur, selama belajar satelit dan antena susah banget nyambungnya sampe bingung sekarang gimana ceritanya. Termasuk waktu itu kami ikut teknisi yang melakukan pointing VSAT untuk sebuah ATM. Ada sebuah proses yang disebut crosspole dimana membutuhkan petunjuk telkom, sudah seharian menunggu, namun pihak telkom selalu menunda, tidur di atas ruko menikmati terik matahari, dan ... ._.
Magang pun berakhir, kami kembali menemui pak presdir. Inilah saat kami berterima kasih atas kesempatan yang telah Ia berikan. Digajikah kita? Iya, tapi kami menolak. Orang tuaku langsung bilang "harusnya terima aja..." padahal waktu personalia tanya rekening kita waktu itu, kita langsung bilang kami tidak merasa berkontribusi bagi perusahaan, tujuan kami hanya belajar. Memang tidak apa-apa menerima uang itu, tapi aku yakin akan menyisakan rasa sesak di dada, karena menyiakan idealisme yang hanya ada bagi mahasiswa.
Pak presdir kami, dia orang Tionghoa alias Cina. Namun, dia baru bisa berbahasa Mandarin setelah bekerja, bahkan dia seorang mantan PNS. Dulu, waktu masih jadi pegawai administrasi pengurusan STNK, sering diejek karena nyambi kuliah. Nyatanya, kini dia adalah pejabat penting di 3 perusahaan Salim Group. "Ya emang udah Cina, terus mau gimana lagi..." ucapnya setelah menceritakan masa kecilnya tidak berbeda dengan anak pribumi yang suka main di sawah dan kali.

4/15/12

"Transforming Business, Building Careers" with SAP


Laporan: Adhika ID Pratomo
Resume Kuliah Tamu Perencanaan Sumber Daya Perusahaan


SAP, dibaca ”eis-ei-pi”, begitulah perbedaan Singgih Wandojo mengucapkan perusahaan yang dipegangnya untuk wilayah Indonesia. Jelas saja, Ia adalah alumnus Teknik Elektro ITS yang kini menduduki kursi Managing Director SAP Indonesia. Bedanya, begitu bangga anak-anak Sistem Informasi ITS terhadap perusahaan tersebut, tapi mengucapnya masih “es-a-pe” atau biar aman dijadikan satu penggalan kata “sap”.
Namun, lidah tetaplah lidah yang bisa dirubah dan dilatih. Pagi itu (11/04), Pak Singgih datang ke ITS untuk menyampaikan kuliah tamu yang bertajuk “Transforming Business, Building Careers”. Perkenalan SAP sebagai perusahaan global menjadi pembuka, tidak asing lagi jika pengembang aplikasi bisnis ini sudah digunakan ratusan perusahaan di dunia, dengan 80%-nya penopang brand terkemuka.
Berhubung audiens-nya adalah akademisi, Pak Singgih bercerita baru saja lahir sebuah terobosan SAP dari penelitian di universitas. Hasso-Plattner-Institut dan Stanford University pada hasil risetnya yang kini sudah digunakan industri menamai terobosan tersebut sebagai SAP HANA (High-Performance Analytical Appliance). Apa itu SAP HANA? Sebentar dulu.
Sebelumnya, apa itu SAP? Maka mainan anak-anak LEGO™ menjadi pengibaratan. Setiap bagian dari mainan bongkar pasang tersebut adalah proses bisnis. Maka SAP hanya akan menjual dan memasang bagian yang menjadi proses bisnis perusahaan yang akan membeli produknya.
Sebagai perusahaan penyedia aplikasi bisnis, SAP sadar betul pergerakan customer terhadap teknologi saat ini. Tren teknologi tersebut diantara lain:
  • Connectivity, yaitu adanya barang yang kita sebut sebagai smartphone. Barang yang membuat bisnis bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Bagaimana SAP sebagai penopang proses bisnis bisa diakses dari genggaman tangan?
  • Big Data, transaksi dalam proses bisnis ternyata setiap 18 bulan meningkat konsumsi penyimpanannya hingga 2 kali. Bagaimana SAP dapat memanfaatkan data-data tersebut menjadi sebuah rangkaian cerita bagi perusahaan atas tingkah pola customer?
  • Cloud, saat ini 80% software ditawarkan dalam bentuk cloud. Kenapa? Perusahaan tidak mau lagi dibebani oleh operasional SI/TI. Saat memutuskan menjadikan solusi SI/TI sebagai penopang proses bisnis, jangan sampai performa perusahaan menurun karena dia bukanlah perusahaan berbasis SI/TI.
  • Social Media, menjadi penting mempertimbangkan hal yang satu ini. Bisnis di Amerika contohnya, saat seorang pengunjung pantai membuat tweet tentang panasnya pantai suatu sore, maka akan membuat toko eskrim mengirimkan truk jualannya ke pantai tersebut.
Tren diatas mengerucut lagi menjadi keinginan customer terhadap produk SI/TI, antara lain:
  • Instant use & instant value, everywhere.
  • Lower IT cost.
  • Beautiful Product Experience.
Sehingga SAP memiliki susunan kategori pasar yang disebut sebagai “SAP’s 5 Market Categories”, yang kelimanya mengarah pada 24 industri dan 11 lines of business, yaitu:
  • Cloud
  • Mobile
  •  Analytics
  •  Applications
  • Database & Technology
Lalu, apa itu SAP HANA? Menjawab tantangan trend dan keinginan customer, SAP HANA adalah sebuah terobosan in-memory computing. Bekerja sama dengan produsen hardware terkemuka, SAP HANA membuat penyimpanan data yang akan diproses di atas memori komputer. Sehingga kecepatannya bisa 365 kali dari pemroresan pada umumnya. SAP HANA tergolong columnar data storage architecture, mungkin akan menggantikan row data storage architecture yang digunakan RDBMS pada umumnya selama ini.
Aplikasi terbaru yang diakuisisi SAP berbasi cloud adalah untuk Human Capital Management. Inilah SAP, tidak berdiri sendiri. Terdapat ekosistem sebagai partner SAP, seperti konsultan dan developer. Menurut penuturan Pak Singgih, SAP jarang menerima fresh graduate sebagai pegawainya. Konsultan pun biasanya yang sudah 3 s.d. 5 kali terlibat proyek SAP. Namun, peluang bekerja terlibat bersama SAP cukup besar mengingat baru Jakarta sebagai kota di Indonesia yang sadar ERP. SAP secara global telah merumuskan poin-poin penting yang menjadi pondasi kesuksesan implementasi SAP, antara lain Sponsorship (top-down influence), Best Practice, Program, People, dan Technology & Support.
Sewajarnya PLN, Telkom, Indofood, Krakatau Steel, dan beberapa perusahaan besar lainnya di Indonesia menggunakan SAP. Bagaimana dengan kampus? Ternyata baru UII Yogyakarta saja yang mengimplementasikan SAP, bukan sekedar SAP Campus Alliance. Walaupun bukan untuk main business-nya, yaitu pendidikan, tetapi implementasi SAP untuk financial management. Transparansi keuangan menjadi benefit bagi UII.

12/30/11

Jaringan lebih dalam (2)

Masih karena DMJ, kali ini survei untuk FP. Janji saya untuk cerita dari postingan sebelumnya.
Survei DMJ ke Telkom Surabaya
Telkom Solution House (TSH), Ketintang, Surabaya
Kalau sebelumnya yang sharing datang ke kampus, kali ini saya dan salah satu teman sekelompok, Erina Siska, yang mendatangi yang sharing. Bertempat di daerah Ketintang, tujuan survei saya adalah untuk mengetahui bagaimana Telkom Solution men-solusi-kan berbagai kebutuhan IT pelanggannya, terutama terkait jaringan. Sebenarnya tugas kelompok saya adalah mengetahui bentuk jaringan perusahaan, tapi... Telkom Solution bukanlah perusahaan, melainkan produk layanan Telkom untuk IT Solution bagi korporasi. Masih bernaung penuh di Telkom di bawah Divisi Enterprise Service (Dives). Artinya, jaringannya ya berarti jaringannya Telkom secara keseluruhan. Sedangkan tema FP kami adalah Industri Kreatif/Production House/Software House, asumsi kami IT Solution termasuk.
Pihak Telkom menerima kami cukup baik, kami diberikan penjelasan oleh Bu Tatik dan Pak Hidayat. Saya tidak akan banyak menceritakan penjelasan teknis yang kami dapat, tapi beberapa pembelajaran baru yang belum tentu didapat di kampus. Inilah enaknya ke lapangan, ternyata berbeda jauh dari sekedar cerita di kampus, walaupun tidak kontras.
Begitu bertemu Bu Tatik pertama kali, tidak ada tampang orang teknis sama sekali, Ia orang marketing. Namun, begitu kita bilang kita butuh topologi jaringan, Ia langsung minta kertas dan sekejap kertas putih polos terisi gambar topologi jaringan yang di-provide Telkom untuk pelanggan kelas korporasi. Contohnya VPN IP, Metro-E, dan AstiNet. Walaupun di kuliah sudah pernah dijelaskan, tapi disitu saya baru ngeh maksudnya public network dan private network.
Private network adalah pembuatan jaringan berupa 'jalan pribadi' bagi suatu perusahaan -contohnya-, hanya bisa dimasuki dan dilewati oleh internal perusahaan. Produk-produk jaringan yang sudah saya sebutkan tadi disebut juga jasa link ke backbone Telkom. Sebagai contoh, jaringan internal perusahaan bukan dioper melalui internet ataupun server sendiri secara langsung, tapi ke Telkom dulu melalui titik-titik backbone-nya. Bayangkan saja jika transaksi internal perusahaan yang besar dan luas harus dilewatkan internet, harus berbagi bandwith dengan siapapun dan jelas tidak aman.
Selanjutnya kami diajak ke Telkom Solution House, semacam showroom berbagai produk unggulan Telkom. Seperti Video Conference, Telepresence, Groovia IPTV, Speedy Monitoring, dll. Kami ditunjukkan peta backbone Telkom. Pak Hidayat membuktikan bahwa Telkom-lah yang memang mempunyai jaringan reliable skala nasional.
Peta Backbone Telkom
Kenapa? Telkom jarang mau menggunakan media transmisi radio untuk jaringan, karena murahan, untuk internal bahkan dijual. Walaupun beresiko kalah saing dengan penyedia jasa IT Solution lain karena harga, Telkom mengutamakan kualitas bagi pelanggannya. "Misalnya gini, untuk luas jangkauan yang sama kita taro harga 10 tapi pakai fiber optic, daripada yang lainnya taro 8 tapi radio?" tegas Pak Hidayat. Terkadang pelanggan tergiur harga murah saja.
Melihat peta backbone, untuk koneksi keluar negeri Telkom bekerja sama dengan Singapur dan Hong Kong. Pertanyaan saya, kenapa tidak dibangun ke Australia? Ternyata selama ini yang menyebabkan kenapa Indonesia tidak bisa jadi titik backbone internet dunia pun karena masalah politik luar negeri yang belum 'sangar'. Indonesia belum mampu memperoleh kepercayan dunia internasional. Jadi, sabar saja jika download dari luar negeri kita masih lambat tidak seperti di Taiwan atau Jepang.
Kami begitu beruntung mendapatkan Bu Tatik dan Pak Hidayat yang sedianya orang marketing menjelaskan  tentang jaringan. Pembelajaran yang sepulang dari sana saya petik adalah, soft-skill ternyata memang tidak bisa terpisahkan dengan hard-skill, saya pernah post tentang hal tersebut sebelumnya.
Pesan Pak Hidayat sebelum pulang buat 'anak komputer' seperti kami sebagai berikut:
"Produk yang saya jual ini -VPN IP, AstiNet, Metro-E- itu cuman pipa, bisnis kecil. Perhatikan, siapa yang memberikan kehidupan, pipa atau air? Jelas airnya. Aku cuman pesen ke kalian, kuliah yang bener, buat kreatifitas, bikin aplikasi-aplikasi yang benefit."
Betapa beruntungnya, memang begitulah yang dijanjikan dan dikonsep jurusan sistem informasi. "They built IT, we make fortune from it."

Jaringan lebih dalam (1)

'Combo attack' untuk telekomunikasi. Setelah sebelumnya belajar telekomunikasi bersama Mas Kiki Ahmadi dari XL Axiata lewat kuliah tamu Desain dan Manajemen Jaringan (DMJ), survei untuk tugas besar atau yang lebih akrab disapa final project (FP) juga di perusahaan telekomunikasi BUMN, siapa lagi kalau bukan Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom).
Kuliah Tamu DMJ
Sharing-sharing bareng Mas Kiki sebelumnya lebih banyak berbicara tentang perkembangan dunia telekomunikasi, jaringan yang hingga saat ini berhasil menghubungkan jutaan node antar belahan dunia. Dulu kalau punya handphone, populer banget sama yang istilahnya roaming. Ternyata roaming itu adalah (kurang lebih) perpindahan data lokasi, terdaftar di base transcevier station (BTS) mana, setiap kali kita bergerak menjahui BTS awal dan mendekati BTS baru. Dulu beberapa perpindahan yang jauh akan dikenakan charge, disebutlah roaming.
Selain itu dalam kuliah tamu juga dibahas mengenai perbedaan GSM dan CDMA. Roaming yang dimiliki GSM-lah pembedanya. Secara geografis, awalnya GSM berkembang di Eropa, sedangkan GSM di Amerika. CDMA lahir setelah GSM, keunggulannya adalah cakupan satu BTS-nya yang lebih luas, hampir 1 kota. Beda mobilitas ekonominya, beda teknologinya. Jarak antar kota yang jauh di Amerika membuat intensitas perpindahan disana cukup minim, sehingga roaming adalah suatu hal yang tidak perlu. Bandingkan dengan di Eropa, negaranya kecil-kecil sehingga jaraknya dekat-dekat, lintas negara dalam hitungan 1x24 jam menjadi hal yang lumrah disana.
Kuliah Tamu belum selesai. Masih ada cerita tentang perkembangan machine-to-machine (M2M) dan Cloud Computing. M2M kurang lebih adalah pertukaran informasi dari mesin ke mesin, contoh pada tracking paket kiriman ekspedisi. Barang cukup diberikan SIM card selayaknya handphone untuk dilacak keberadaanya. Indonesia melalui PLN mengembangkan agar meteran listrik dengan SIM card bisa dicek melalui jaringan dan PLN bisa membuat real-time online billing.
Kalau bicara cloud computing, kurang lebih sama dengan postingan di blog ini sebelumnya. Mas Kiki mencontohkan Google Chrome OS dengan Chromebook-nya. Video ini lebih singkat, padat, dan Jelas memancing maksud cloud computing.
Setelah ini saya bakal cerita 'telecom attack' berikutnya di Telkom. Ikuti ceritanya!

5/18/11

Peluang, TIK, Kesempatan

Salah satu bidang yang saya kenal sejak kecil dan saya tekuni hingga saat ini, yaitu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT). TIK sendiri saat ini dalam bidang pendidikan sudah menjadi salah satu mata pelajaran sejak SD. Identik dengan komputer, kenapa bidang ini jadi begitu penting bagi setiap orang sampai sudah disuntikkan ke kurikulum formal?
Sebelumnya kita evaluasi dulu sejauh mana TIK sudah dikuasai oleh masyarakat kita. Apakah sudah optimal? Menurut saya belum. Hal tersebut bisa saya deteksi begitu saya tanya "Apa itu TIK?" ke beberapa pelajar SMA yang berarti sudah belajar TIK setidaknya 4 tahun. Namun, sayang sekali saya tidak menemukan jawaban sempurna. Bagi saya itu bukan salah mereka. Bagi banyak ahli hingga mengapa TIK ini masuk kurikulum, kompetensi TIK adalah "darah" bagi berbagai bisnis.
Untuk definisinya sendiri, kita bisa lihat di berbagai referensi, mungkin wikipedia. Sadar atau tidak, TIK sebenarnya "mengubah peluang jadi kesempatan". Saya menemukan kesadaran tersebut saat mendefinisikan TIK dari memecah masing-masing definisi teknologi, informasi, dan komunikasi.
Peluang dan Kesempatan
Langsung ke contoh saja, misal:
"Anda beperluang kaya", pernyataan tersebut jelas berlaku bagi siapa pun. Bandingkan dengan "Anda berkesempatan kaya". Perhatikan analisa berikut
dari tabel di atas, kita bisa mengerti bagaimana jika peluang sudah menjadi kesempatan.
Sehingga bisa kita sadari betapa kita akan maju jika menjadikan TIK sebagai karakter kita, tidak perlu menjadikannya sebagai yang utama.
Saat ini poros perkembangan dunia dipengaruhi 3 bidang, yaitu:
  • Moneter/ekonomi/akuntansi
  • Media/jurnalistik
  • dan kedua hal diatas berada di atas TIK yang dibangun dan senantiasa dikembangkan.

2/15/11

Mr. & Mrs. Skill

Pagi awal semester 2 ini lagi-lagi diceramahi tentang softskill. Kalau dulu dari jurusan, kali ini langsung dari pihak ITS pusat. Sebuah pertemuan yang diadakan BEM ITS untuk sosialisai SKEM, satuan kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa.
SKEM adalah sebuah progam ITS untuk meningkatkan dan mengapresiasi kegiatan mahasiswa yang positif di luar perkuliahan formal. Setiap kegiatan ekstra yang dilaksanakan selama aktif menjadi seorang mahasiswa, mereka mendapatkan poin SKEM tertentu dengan menunjukkan bukti partisipasi (sertifikat atau surat tugas). ITS sendiri menjadikan 1000 poin SKEM sebagai syarat sah diwisudanya S1, sedangkan untuk D3 sejumlah 750.
Soft-skill & Hard-skill, who are they?
Soft-skill adalah segala bentuk kompetensi yang mengarah kepada kepribadian, attitude, dan kesehatan pola berpikir. Contoh dari soft-skill diantaranya kepemimpinan dan mempengaruhi, mampu bekerja sama dan beradaptasi, etika dan integritas, kemampuan berkomunikasi, menarik perhatian dan berempati, berpikir positif dan memunculkan ide baru, dls.
Hard-skill adalah kapabilitas yang setiap individu akan bawa ke dalam lingkungan sebaga core manfaat. Hard-skill setiap orang berbeda-beda, mereka akan saling melengkapi. Contohnya ada kemampuan berhitung, menganalisa, merancang, membangun, eksekusi, memasarkan, birokrasi, dls. Tinggal disesuaikan pada lingkup aktivitas bisnisnya.
Soft-skill vs Hard-skill
Topik ini masih cukup hangat dibilangan pasar SDM terkini. Hasil riset menunjukkan bahwa soft-skill seorang pelamar kerja berperngaruh 80%, sedangkan apa yang kita pelajari selama kuliah hanya dilirik 20% saja. Hal ini berlaku juga jika kita ingin 'melamar' menjadi wirausaha sukses, maksudnya usaha yang dibangun sukses ternyata dilatarbelakangi oleh entrepreneur yang soft-skill-nya mumpuni. Ingat, buka usaha itu bukan sekedar ada barang, tapi juga harus dijual.
Pengembagan soft-skill di ITS
Presiden BEM ITS, Dalu Nuzlul Kirom, dalam sambutannya memaparkan bahwa IP yang tertera dalam ijazah hanya akan mengantarkan kita sampai meja interview, selanjutnya ditentukan dari apa yang keluar dari mulut dan gerak-gerik kita selama berhadapan dengan interviewer. Menurutnya, tanpa SKEM pun harusnya mahasiswa antusias ikut ekstra ini-itu, toh ini untuk dirinya sendiri juga. Tentu tetap mengutamakan studi yang diambil.
Pembantu Rektor III, Prof. Suasmoro, yang menangani konsep SKEM di ITS ini memberikan alasan mengapa SKEM jadi penting diperhatikan, bagi mahasiswa dan institusi. Sebenarnya ini kemauannya stakeholder, ITS ini pabrik SDM. Pengembangan soft-skill pada teknisnya ITS membagi menjadi 4 klasifikasi, yaitu: Penalaran dan Keilmuan, Minat dan Bakat, Organisasi dan Manajemen, dan Kepedulian Sosial.
Kesimpulan
Kita semua pasti ingin mempunyai ayah dan ibu pada waktu yang bersamaan, mohon maaf sebelumnya atas analogi saya bagi yang ayah/ibunya telah tiada. Begitulah Mr. & Mrs. Skill, mereka bisa jadi orang tua untuk membimbing kita menjadi manfaat bagi lingkungan.
Analogi lain, soft-skill adalah body, interior, dan aksesoris mobil sedangkan hard-skill adalah mesinnya. Percuma mesinnya canggih, kencang, irit, eco-friendly tapi memalukan untuk dinaiki karena body dan interiornya yang jelek. Kita pun tak mau jadi mobil yang bagus body dan interiornya, tapi sering mogok, boros bahan bakar, dan gak bisa ngebut.

1/3/11

Goals Imaging

    Jika kita ditanya seberapa penting penampilan, mungkin beberapa dari kita akan menjawab penting jika kita adalah orang operasional, lalu mungkin juga beberapa akan menjawab tidak begitu penting sebagai orang teknis. Doktrin yang selama ini beredar, terutama bagi orang teknis, penampilan itu yang penting nyaman. Yak, benar sekali. Namun, lebih baik lagi kita menyamankan diri kita dengan situasi apapun karena orang seperti itulah yang akan lebih dicari dan bermanfaat bagi siapapun.
    Penampilan fisik adalah salah satu dari image/citra diri kita bagi orang lain. Disamping itu terdapat sikap yang harus kita terapkan agar kita laku dipasaran terkain kapabilitas kita di bidang tertentu. Soalnya kita adalah manusia biasa, bukan robot ataupun mesin, situasi yang sedang meradang pada diri kita akan ikut menentukan performansi kinerja dan profesionalitas kita, melibatkan ataupun tidak melibatkan orang lain.
    Bagi kita yang masih menganggap image tidak perlu terlalu diperhatikan, sadar atau tidak, kita selama ini lebih senang pada orang yang ganteng/cantik. Banyak orang dijauhi karena jorok. Mengapa begitu? Karena orang lain ingin merasa nyaman dan dihargai dimanapun ia berada. Lawan urusan kita merasa nyaman karena melihat kita niat untuk bertemu dengannya, artinya ia merasa dihargai.
    Believing is buying, ini berhubungan dengan kapabilitas kita dan cara kita menjualnya kepada industri. Jika kita sakit dan datang ke sebuah rumah sakit, yakinkah kita untuk diobati dokter yang berdkitan tidak seperti layaknya dokter? Yakinkah kita akan membeli kosmetik dari orang yang tidak bisa berdandan? Bagi kita yang membuka diri pasti akan menjawb tidak.
    Sekarang kita masuk pada bagaimana cara membangun citra/image pada diri kita. Pertama kenali dulu apa potensi kita, termasuk apa yang kita suka dan tidak suka. Lalu bulatkan apa yang kita tuju dan lakukan demi menuju kesana. Konsistenlah pada tujuan tersebut, jadikan itu sebagai citra diri kita yang sesuai. Bercitralah kita selayaknya mahasiswa, pengajar, pegawai, manager, jurnalis, montir, progammer, sales, office boy, sekretaris, seniman, musisi, EO, frontliner, atau apapun itu. Mudahkan orang lain untuk menebak apa kita ini sebenarnya. Seorang progammer bisa jadi hanya dianggap sebagai office boy karena karena ia tak mampu membangun image.
    Tingkat intelektualitas dan kapabilitas kita bagi orang lain tergantung cara kita bersikap, berpenampilan, dan berlisan. "Tell me what you eat and I'll tell what you are.", begitulah pepatah orang barat. Kita memang akan 'menipu' orang lain dengan membangun image dan memanipulasinya sesuai tujuan kita dan kebutuhan industri. Menjadi ancaman sosial bagi kita jika manipulasi tersebut tidak dibarengi dengan kapabilitas kita.

1/1/11

Speaking isn't Talking

Public Speaking, berbicara di depan umum, merupakan salah satu bagian dari Public Exposing. Mencitrakan seperti apa diri kita kepada umum dan orang lain. Diantaranya lagi dari public exposing adalah menulis ilmiah populer yang pernah kita bahas awal-awal adanya blog ini. Menulis dan Berbicara sebagai self exposing to public sama-sama membuat orang lain mempunyai bahan penilaian terhadap pribadi kita, takkan tersembunyikan.
Public speaking is a life skill, sekali bisa maka tidak diragukan selanjutnya. Karena itu, cara kita untuk mampu berbicara adalah dengan berlatih tiada henti. Ambil kesempatan sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan pengalaman berbicara agar punya bahan evaluasi untuk peninggkatan selanjutnya.
Tak berbeda dengan menulis ilmiah populer, tujuan dari public speaking yang pertama adalah to inform, bukan to tell, artinya yang kita sampaikan memang penting dan berdasar hal yang rasional serta kita setidaknya pahami bahkan kuasai. Kedua, to entertain, buat pendengar kita merasa tertarik atas apa yang kita bicarakan. Berarti yang perlu diingat selanjutnya adalah berbicara sesuai latar belakang pendengar, tidak menggunakan bahasa yang akan 'memperkosa' kemampuan nalarnya. Namun karena interaksi dengan berbicara itu live, sangat tidak patut untuk mempermalukan audien(s) atau lawan bicara.
Mirza Wardana, sebagai inspirasi dalam tulisan ini, juga memaparkan tentang Teknik Vokal yang setiap orang punya khas masing-masing namun tinggal diwajarkan sesuai permintaan pendengarnya. Soal vokal, diantaranya adalah Intonasi (pelaguan), Aksentuasi (penekanan), Artikulasi (kejelasan pengucapan), dan Infleksi. Selanjutnya soal tampilan kita saat berbicara yang perlu diperhatikan adalah Eye Contact, Gesture (gerakan) yang sewajarnya, penyisipan humor, dan yang paling penting adalah Senyum. Juga disinggung soal pemenggalan, itu hanyalah persoalan personal sesuai kekuatan nafasnya masing-masing. Akan terlatih jika sering menulis, ternyata.
Mirza juga berbagi bagaimana kita bisa sukses mencapai apa yang kita inginkan dari mimpi atas apa yang kita bisa, yaitu: Understand ourself, Know our Dreams, Set our Goals, and Start represent it to 'industry' needs!