10/8/11

Orang Besar yang Sombong

Orang yang meremehkan orang lain, atau menganggap dirinya lebih "besar" dari pada orang lain, hanya ada dua kemungkinan bagi orang semacam ini, yaitu:
1. Orang tersebut lupa, Ia tidak ingat pernah jadi kecil.
2. Orang tersebut sebenarnya belum "besar", karena sesungguhnya orang yang besar itu karena Ia mengumpulkan bagian- bagian kecil hidupnya hingga jadi besar. Artinya, orang yang merasa besar tersebut akan merasakan yang namanya jadi kecil.

posted from Bloggeroid

9/5/11

Supaya Kuliah bisa memasukkanmu ke Surga

Salam, setelah liburan yang cukup panjang merayakan Idul Fitri 1342H bersama keluarga, kini saatnya kembali kita beraktivitas dan berkarya. Salam hangat saya khusus untuk teman-teman mahasiswa, bahkan calon mahasiswa. Semoga postingan kali ini bisa menjadi inspirasi baru teman-teman memulai semester ganjil kali ini :)
Sampai hari ini, masih banyak teman-teman saya yang kerepotan merumuskan bagaimana mencapai kesuksesan. Banyak dari mereka baca buku motivasi ini itu, padahal sesungguhnya sukses itu perilaku bukan teori. Berikut ini singkat saja saya mencoba merumuskan pemikiran bagaimana sukses dari perkuliahan, mungkin isinya cukup membosankan tapi semoga bisa mengembalikan semangat kita.
  • Pasal pertama kita adalah "Kuliah itu yang utama, tapi bukan segala-galanya". Ini terkait banyaknya tipe mahasiswa mahasiswa, kalau tidak kuliah-perpus-kuliah-perpus (kuper) atau kuliah-nangkring-kuliah-nangkring (kunang-kunang). Ada saja mahasiswa yang mengejar indeks prestasi (IP) sampai lulus tanpa memikirkan dunia sosialnya, tapi ada pula mahasiswa yang mengenyampingkan IP-nya dengan alasan 'mengabdi untuk banyak orang'. Ingat, sehebat-hebatnya mahasiswa sukses, masih lebih hebat alumni sukses.
  • "Organisasi/Pengabdian Masyarakat itu perlu, tapi perlu Ilmu." Kalau tanpa ilmu, sebaiknya kamu tidur saja, jangan coba-coba terjun ke masyarakat. Jangan pernah Nekad dalam membantu orang!, yang ada kamu hanya bakal merepotkan hingga merugikannya. Contoh kamu seorang mahasiswa teknik sipil yang ingin membangun sarana air bersih di sebuah pedesaan, padahal kuliah kamu soal pipa-pipa gitu hasilnya jelek. Untuk awalnya pembangunan selesai, tapi karena adanya kesalahan, orang-orang desa yang tadinya mau kamu bantu malah jadi kerepotan karena fasilitas tersebut rusak sehingga mereka harus mengeluarkan biaya untuk membetulkan. Karena kecerobohanmu, niat baikmu jadi sia-sia.
  • "Banyak orang-orang sukses saat ini dulunya hanya menjadikan kuliah seperti kursus, bahkan sekedar seminar, atau bahkan lagi hiburan". Siapa yang pernah kira bahwa Pak Mario Teguh sekolah SMA jurusan Arsitektur lalu lulus S-1 bergelar Sarjana Pendidikan. Ia tak hanya menerima pengetahuan dari mengenyam pendidikan itu, tapi mencari aplikasinya bagi kehidupan nyata. Nyatanya kini beliau adalah motivator terkenal dan menjadi konsultan bisnis, bukan guru sekolah ataupun perancang bangunan. Masih banyak lagi tokoh serupa, seperti Sujiwo Tejo yang ternyata pernah kuliah di Teknik Sipil ITB.
  • "Tidak ada yang instan, semuanya butuh proses". Teman-teman pasti lebih bosan lagi mendengar quote ini. Pergunakanlah waktu yang ada sebagai proses demi proses, carilah pengalaman sebanyak-banyak. Sebagai contoh saja memimpin, tidak mungkin kita dipercaya jadi direktur atau hanya manajer yang sukses kalau tidak pernah memimpin suatu tim sebelumnya.
  • "Kita butuh teman, tapi pastikan kita dibutuhkan teman". Ini sebagai tegurang bagi yang kunang-kunang, maaf. Sangat baik sudah membangun jaringan sejak dini, memang pasti suatu waktu kita akan butuh teman sebagai anak tangga menuju kesuksesan kita.Tapi apakah ada yang mau berteman dengan kita jika kita hanya memanfaatkannya? Lama-lama kita pasti akan ditinggalkan jika seperti itu. Untuk ituk, jadilah orang yang berguna, jangan hanya jadi benalu bagi orang lain.
Saya yakin di matematika kita sudah pernah memperlajari bagaimana mengerjakan bentuk persamaan, contoh:
Diketahui x = y + z; y = a + b; z = p + q
Maka x = (a + b) + (p + q)

Begitu pula dengan mencapai kesuksesan, banyak persamaan yang akan terkait. Inilah yang coba saya rumuskan, mungkin Anda bisa lebih baik dalam merumuskannya.
Kuliah + IP = Lulus
Lulus + Prestasi/Pengalaman = Kerja/Karya
Kerja/Karya + Teman = Bisnis
Bisnis = Uang
Uang + Keluarga/Masyarakat = Menyenangkan orang lain
Orang lain senang = Allah SWT senang = Insya Allah masuk surga. Amin :)

8/2/11

Resensi Novel "Writer vs Editor"

Judul         Writer vs Editor
Penulis     Ria N. Badaria
Penerbit     Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit     Januari - 2011
Jumlah Halaman     312
Jenis Cover     Soft Cover
Dimensi(L x P)     135x200mm
Text Bahasa     Indonesia

Judul novel ini sedikit mengecoh. Kalau saya tidak sebut itu sebagai sebuah novel, beberapa orang mengira itu buku nonfiksi. Novel karangan Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008 - 2009 ini memang patut mengakui penulisnya memang berbakat.
Penulis novel adalah sebuah pekerjaan lepas yang siapa saja lakukan, salah satunya adalah Nuna, Ia sehari-harinya bekerja di sebuah swalayan di kota Bogor. Kehidupannya pun tak jauh berbeda dengan orang-orang yang pekerjaannya sekelas, tinggal disebuah kontrakan sendirian.
Awalnya memang terlihat hanya sebatas hubungan pekerjaan dengan Rengga, editor yang kebagian novel tulisan Nuna. Namun, itulah hubungan antar lawan jenis apalagi dalam usia yang sepantaran. Diantara mereka pun awalnya juga tiada niatan untuk punya hubungan lebih dari sekedar bekerja.
Laki-laki yang sudah sejak lama hadir untuk hidup Nuna adalah Arfat, yang masih punya hubungan saudara dengannya. Studi Arfat ke luar negeri membuat Nuna harus lama terpisah. Sampai mereka akhirnya bertemu lagi pada keadaan yang menjadi inti cerita pada novel ini.
Nuna adalah perempuan yang berada diantara dua pria, yaitu Arfat cinta lamanya dan Rengga lelaki yang tanpa sengaja Ia letakkan perasaan. Sampai akhirnya, Nuna mendapatkan yang terbaik bagi hidupnya. Ia menyadari betul bahwa manusia boleh berencana apa yang terbaik baginya, tapi Tuhan lebih tahu dan menentukan.
Seru yang Simple, itulah gambaran bagaimana Ria menuliskan novelnya ini. Segi bahasanya cocok bagi penikmat novel semacam ini yaitu para remaja, terutama para mahasiswa yang biasanya lebih sibuk. Kesederhanaan tulisan menjadi alasan yang sangat tepat menjadikan novel ini sebagai hiburan melepas penat. Selamat membaca :)

6/13/11

Leader vs Manager

Aku memang bukanlah seorang pemimpin, apalagi pemimpin yang baik. Sejauh ini aku hanya mengenal pemimpin itu artinya pengaruh, dan aku mengenalnya baru dari mengimplementasikan dan memperdalam beberapa teori dan pengalaman kepemimpinan.
Adapun orang yang berada diatas, tapi dia bukan pemimpin, lebih cocok istilah baginya adalah manajer. Setelah ini kita akan lebih mengetahui apa bedanya pemimpin dan manajer.
Jika diberikan sebuah angka oleh bawahannya...
Manajer biasanya berputar-putar bicarakan angka, naik dan turunnya. Pemimpin akan cari tahu kenapa muncul angka tersebut, kenapa bisa sampai naik ataupun turun.
Jika bawahan meminta petunjuk soal apa yang harus dikerjakan...
Manajer akan bahas sampai detail-detailnya soal pengerjaan yang diberikan. Pemimpin hanya akan beritahu tujuan Ia berikan pekerjaan itu, apa resiko dan konsekuensi dari setiap langkah kerja yang diambil.
Saat ada ketidaksesuaian hasil pengerjaan oleh bawahan...
Manajer mungkin akan marah-marah. Pemimpin akan tetap terima dengan kata "tapi..." agar bawahannya bisa berubah, selanjutnya ketidaksesuaian itu akan Ia siasati dengan mengoper pekerjaan itu ke bawahan lain yang lebih mampu. Disitulah terkadang pemimpin juga bekerja teknis untuk memberikan contoh bagi bawahan yang belum mampu tersebut.
Contoh skenario di atas hanyalah contoh dari perbedaan antara pemimpin dan manajer, masih banyak lagi aspek yang dapat membedakan antara pemimpin dengan manajer.
Jika Anda seorang bawahan, siapa yang Anda pilih jadi atasan, pemimpin atau manajer?
Lalu, dari gambaran yang saya paparkan, siapakah Anda?
Manajer berfikir taktis dimana Pemimpin berfikir Strategis. Manajer akan bertanya Apa, Pemimpin mempertanyakan Kenapa.

6/11/11

Masalah Persatuan

Pernahkah kita merasa organisasi kita sulit menemukan tujuan yang sama? Pernahkah kita merasa dalam organisasi kita hanya sebagai orang terdaftar?
Satu kata, yaitu eksklusifisme. Rasa keistimewaan bagi beberapa orang yang sebenarnya hanya membawa/terbawa satu orang ambisius saja.
Orang-orang tersebut beranggapan pendapat mereka paling benar. Mereka biasanya memutuskan kepentingan keseluruhan organisasi tanpa menghiraukan banyak elemen organisasi lainnya.
Mengapa hal tersebut menjadi masalah? Karena mereka tentu akan membuat elemen organisasi di luar mereka merasa tidak dihargai, sehingga orang-orang di luar mereka tersebut cenderung diam dan ingin menjauh. Jelas saja, mereka hanya akan merasa dimanfaatkan orang-orang eksklusif tersebut.
Selanjutnya orang-orang eksklusif tersebut akan merasa hanya mereka yang berjasa selama ini. Orang-orang eksklusif tersebut tidak akan sadar bahwa mereka menganut eksklusifisme.
Solusinya?? Jangan pernah meremehkan siapapun, apapun latar belakangnya. Jangan takut jadi sendiri karena dekat dengan siapapun, jangan sering-sering kumpul dengan orang-orang itu aja.

posted from Bloggeroid

5/18/11

Peluang, TIK, Kesempatan

Salah satu bidang yang saya kenal sejak kecil dan saya tekuni hingga saat ini, yaitu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT). TIK sendiri saat ini dalam bidang pendidikan sudah menjadi salah satu mata pelajaran sejak SD. Identik dengan komputer, kenapa bidang ini jadi begitu penting bagi setiap orang sampai sudah disuntikkan ke kurikulum formal?
Sebelumnya kita evaluasi dulu sejauh mana TIK sudah dikuasai oleh masyarakat kita. Apakah sudah optimal? Menurut saya belum. Hal tersebut bisa saya deteksi begitu saya tanya "Apa itu TIK?" ke beberapa pelajar SMA yang berarti sudah belajar TIK setidaknya 4 tahun. Namun, sayang sekali saya tidak menemukan jawaban sempurna. Bagi saya itu bukan salah mereka. Bagi banyak ahli hingga mengapa TIK ini masuk kurikulum, kompetensi TIK adalah "darah" bagi berbagai bisnis.
Untuk definisinya sendiri, kita bisa lihat di berbagai referensi, mungkin wikipedia. Sadar atau tidak, TIK sebenarnya "mengubah peluang jadi kesempatan". Saya menemukan kesadaran tersebut saat mendefinisikan TIK dari memecah masing-masing definisi teknologi, informasi, dan komunikasi.
Peluang dan Kesempatan
Langsung ke contoh saja, misal:
"Anda beperluang kaya", pernyataan tersebut jelas berlaku bagi siapa pun. Bandingkan dengan "Anda berkesempatan kaya". Perhatikan analisa berikut
dari tabel di atas, kita bisa mengerti bagaimana jika peluang sudah menjadi kesempatan.
Sehingga bisa kita sadari betapa kita akan maju jika menjadikan TIK sebagai karakter kita, tidak perlu menjadikannya sebagai yang utama.
Saat ini poros perkembangan dunia dipengaruhi 3 bidang, yaitu:
  • Moneter/ekonomi/akuntansi
  • Media/jurnalistik
  • dan kedua hal diatas berada di atas TIK yang dibangun dan senantiasa dikembangkan.

4/29/11

Manfaatnya jadi Brandalan

Brandalan yang saya maksud disini bukanlah mereka yang tak beretika, amoral, dan merugikan orang lain. Melainkan mereka yang "gaul", dimana orang lain menilai mereka hidup hanya untuk "bersosialisasi" saja. Padahal mereka juga turut berkarya dan berpengaruh positif bagi orang lain.
Banyak orang berpandangan bahwa "orang baik" ialah mereka yang tidak banyak omong, pintar, religius, santun, dan cenderung menyendiri. Benar sekali, mereka adalah orang yang baik. Namun, berdasarkan logika saya, orang baik macam itu agak menjadi masalah sekarang. Orang-orang baik itu hanya sebatas bermanfaat bagi dirinya sendiri saja.
Saya justru lebih senang orang brandal, tapi positif, yang tadi saya bilang sebagai orang yang kerjanya "bersosialisasi saja". Misalkan pada mahasiswa, mereka kuliah biasa-biasa saja dan tak menonjol, lebih terlihat di dunia organisasi dan sering 'mejeng' seperti kekanak-kanakan. Padahal mereka bisa seperti itu karena mereka itu dewasa, bisa mengatur waktu, menyusun prioritas, dan membedakan baik dan buruk.
Orang-orang seperti itu justru akan lebih beruntung. Ibaratnya, siapa yang tidak senang dengan anak-anak?. Namun anak-anak itu banyak bermanfaat bagi sekitarnya.
Salah satu manfaat menjadi orang "gaul" tadi adalah bagi anak-anak mereka nanti. Kita sadar, anak-anak jaman sekarang lebih banyak bersosialisasi dan menyerap dari luar. Tapi tidak ada alasan bagi orang tua untuk sulit menjaga anaknya yang mau tak mau harus lebih banya di luar.
Orang tua "gaul" akan lebih mudah menjaga anaknya. Anak akan menjadi merasa tidak terbatas dekat dengan orang tuanya. Ia akan lebih mudah nurut dengan orang tuanya karena Ia akan sadar bahwa orang tuanya juga melewati hal yang sama dengan yang sedang Ia lewati saat itu. Sehingga menghindarkan mereka lebih berat kepada pengaruh dunia luar yang cenderung menyesatkan.
Saat anak justru dimarahi, mereka bukannya akan takut. Akses mereka untuk ke luar saat ini lebih mudah. Seperti contoh, saat anak ketahuan menonton konten porno jangan kita marahi. Memarahi hanya akan mendorongnya mencari cara tak ketahuan. Terutama untuk ibu, justru temani dia mengeksplorasi hal tersebut, dan beritahu apa maksud dari apa yang ditontonnya 'itu' secara wajar. Tentu secara baik-baik bilang bahwa itu bukan porsinya saat ini dan apa akibatnya jika tidak dia berlaku seperti yang ada dalam konten porno tersebut. Suatu hari Ia kian mandiri, memorinya tersebut akan menurunkan hormon-hormon saat Ia mau mengakses konten porno tersebut, Ia akan berkata, "wah, dulu ada beliau yang justru merangkulku saat aku salah dan meluruskan jalanku."