2/17/11
Indonesia, negara yang santai
2/15/11
Mr. & Mrs. Skill
Soft-skill & Hard-skill, who are they?
1/18/11
Resiko jadi orang Baik
Predikat "baik" memiliki arti masing-masing bagi berbagai orang. Tinggal pastikan saja bahwa pemberian predikat baik yang sebenarnya adalah yang ditinjau secara universal dan tidak berdasarkan alasan politis. Sebagai persepsi awal, kita semua menyadari nobody perfect in this world! yeah, it’s true!…
Resiko yang pertama adalah saat kita berdakwah atau menyampaikan seruan kebaikan. Kita cepat atau lambat akan segera diuji dengan apa yang kita serukan itu sendiri. Misalkan kita baru saja berbagi dengan seseorang mengenai kesabaran, tanpa kita sadari tiba-tiba berikutnya kita diuji untuk tetap sabar dalam suatu kondisi yang membakar amarah.
Berikutnya adalah tantangan kepercayaan yang dibebankan lingkungan kepada Anda. Sebagai orang baik, masyarakat tak akan lagi ragu untuk meberikan Anda sebuah peran. Tantangannya adalah saat peran tersebut terus bertambah dan berbalik menjadi beban karena peran apapun ada masalahnya. Saat dimana kita harus bertahan untuk sabar dan ikhlas. Situasinya nanti adalah sebuah status quo yang ancamannya merupakan bunuh diri karakter.
Kepercayaan manapun menyerukan umatnya untuk berbuat baik. Karena berbuat baik walaupun ternyata beresiko, ada manfaatnya termasuk di resikonya tersebut. Sebagai dampak kita harus menjadi khalifah di muka bumi, Tuhan sungguh merancang ketidaksia-siaan konsep kehidupan itu agar kita lebih mudah dalam mengabdi kepada-Nya. Sebagai orang baik, saat kita membutuhkan bantuan pasti tak perlu lama ditunggu. Amin..
Pemimpin ialah pengaruh sebagai petunjuk, maka jadilah pemimpin yang baik. Resiko adalah faktor pengali dalam mencapai kesuksesan, semakin besar resiko pada usaha yang biasa-biasa saja mengalahkan usaha besar pada resiko kecil.
1/17/11
Dasar Munafik !
Judul ini ditujukan bagi hampir seluruh umat manusia dunia yang merasa tak nyaman dengan hidupnya sendiri. Orang-orang yang mengeluh, yang merasa tidak dibutuhkan dan hampa. Mari kita telaah mengapa sampai kita sebagai manusia dapat merasakan segitunya.
Kita semua adalah free-man (preman, red), menjunjung kebebasan. Merasa terinjak-injak saat diatur, tapi tak ada bersama kita jika kita tidak mau diatur. Untuk mendapatkan tempat yang layak bagi kita sebagai pencari kebebasan, bertindak dan bersosialisasilah tanpa membatasi kebebasan orang lain. Salah satu cara kita untuk diterima dan menghilangkan kegelisahan pribadi.
Ungkapan terima kasih adalah sebuah janji kita terhadap diri sendiri, bukan sekedar ungkapan apresiasi. Jika dipisah menjadi 2 kata dari frase tersebut, disusun dari kata terima dan kasih, dua kata yang antonim. Maknanya adalah saat kita menerima, lalu mengucapkan terima kasih, kita berjanji akan kembali memberi (kasih) di masa depan walaupun bukan bagi yang memberikan kita sesuatu itu.
Apa yang telah kita pikirkan tentang pemerintah? Hidup di negara yang kita akui serba semrawut ini, membuat kita tak bisa begitu menghargai mereka di gedung-gedung megah sana. Kita menganggap bahwa hidup kita saat ini karena usaha kita sendiri dan tak menganggap adanya peran positif pemerintah. Walau hanya segelintir peran dari mereka yang tak begitu memuaskan, tetap saja kita masih enggan untuk menganggapnya ada. Maknanya adalah, selama ini kita suka berada pada posisi sudah berperan tapi tak ada apresiasi yang kita terima. Bukankah begitu juga kita telah perlakukan pemerintah kita.
Intinya di dunia ini berlaku yang namanya hukum karma. Namun, bukan hukum karma yang tidak berkesinambungan, itu tergantung kepercayaan kita masing-masing. Saat kita tidak menghargai orang lain, maka kita harus siap untuk tidak dihargai orang lain. Saat kita mengkritik pihak lain, maka bersiaplah ada pihak lain lagi yang akan segera mengkritik kita.Saat kita melalaikan tanggung jawab terhadap orang lain bahkan diri sendiri, saat itu pula kita sebenarnya minta untuk tak lagi diperhatikan.
Semoga hari demi hari kita senantiasa kian mencerah :)
1/16/11
Yang kita diajari saat kecil, kita harus tinggalkan saat dewasa
1/9/11
'Membersihkan' orang-orang (yang mungkin) bersih
1/3/11
Goals Imaging
Penampilan fisik adalah salah satu dari image/citra diri kita bagi orang lain. Disamping itu terdapat sikap yang harus kita terapkan agar kita laku dipasaran terkain kapabilitas kita di bidang tertentu. Soalnya kita adalah manusia biasa, bukan robot ataupun mesin, situasi yang sedang meradang pada diri kita akan ikut menentukan performansi kinerja dan profesionalitas kita, melibatkan ataupun tidak melibatkan orang lain.
Bagi kita yang masih menganggap image tidak perlu terlalu diperhatikan, sadar atau tidak, kita selama ini lebih senang pada orang yang ganteng/cantik. Banyak orang dijauhi karena jorok. Mengapa begitu? Karena orang lain ingin merasa nyaman dan dihargai dimanapun ia berada. Lawan urusan kita merasa nyaman karena melihat kita niat untuk bertemu dengannya, artinya ia merasa dihargai.
Believing is buying, ini berhubungan dengan kapabilitas kita dan cara kita menjualnya kepada industri. Jika kita sakit dan datang ke sebuah rumah sakit, yakinkah kita untuk diobati dokter yang berdkitan tidak seperti layaknya dokter? Yakinkah kita akan membeli kosmetik dari orang yang tidak bisa berdandan? Bagi kita yang membuka diri pasti akan menjawb tidak.
Sekarang kita masuk pada bagaimana cara membangun citra/image pada diri kita. Pertama kenali dulu apa potensi kita, termasuk apa yang kita suka dan tidak suka. Lalu bulatkan apa yang kita tuju dan lakukan demi menuju kesana. Konsistenlah pada tujuan tersebut, jadikan itu sebagai citra diri kita yang sesuai. Bercitralah kita selayaknya mahasiswa, pengajar, pegawai, manager, jurnalis, montir, progammer, sales, office boy, sekretaris, seniman, musisi, EO, frontliner, atau apapun itu. Mudahkan orang lain untuk menebak apa kita ini sebenarnya. Seorang progammer bisa jadi hanya dianggap sebagai office boy karena karena ia tak mampu membangun image.
Tingkat intelektualitas dan kapabilitas kita bagi orang lain tergantung cara kita bersikap, berpenampilan, dan berlisan. "Tell me what you eat and I'll tell what you are.", begitulah pepatah orang barat. Kita memang akan 'menipu' orang lain dengan membangun image dan memanipulasinya sesuai tujuan kita dan kebutuhan industri. Menjadi ancaman sosial bagi kita jika manipulasi tersebut tidak dibarengi dengan kapabilitas kita.
